Interogasi dengan Metode Wawancara Kognitif

Posted: 8 Februari, 2008 in Psikologi Hukum
Selama ini kita sering mendengar kompleksitas yang dihadapi oleh aparat penegak hukum dalam mengolah berbagai informasi yang bersumber dari alat bukti pengakuan (terdakwa, saksi), oleh karenanya aparat lebih menaruh perhatian terhadap pentingnya teknik interogasi yang mengandalkan pendekatan kognitif. Dibandingkan dengan metode-metode pemeriksaan konvensional lainnya, teknik wawancara kognitif ini lebih kompleks dan membutuhkan lebih banyak proses pelatihan. Satu hal penting yang seyogianya ada selama proses interogasi kognitif adalah kemampuan pemeriksa dalam menjaga suasana hati individu yang tengah diperiksa. Suasana hati yang positif, menurut temuan Milberg dan Clark (1988), mempertinggi tingkat kepatuhan (compliance) si terperiksa terhadap si pemeriksa. Dengan kepatuhan yang tinggi, si terperiksa akan lebih bersedia memenuhi permintaan para interogator dalam menjawab setiap pertanyaan yang diajukan.

Ada dua variabel penting, yaitu kepatuhan dan kejujuran. Penilaian mengenai kepatuhan di satu sisi dan kecerdasan di sisi lain, berujung pada pertanyaan tentang kejujuran ketika memberikan pengakuan di hadapan aparati. Kepatuhan tidak menjamin bahwa pengakuan tersebut merupakan pengakuan faktual, sebagai bentuk adaptasi mereka selama interogasi. Tidak tertutup kemungkinan pengakuan tersebut adalah pengakuan yang keliru (false confession), baik sebagian maupun keseluruhan. Baik sebagai hasil kesengajaan maupun ketidaksengajaan.

Begitu pula dengan kecerdasan, sebagai salah satu elemen penting selama interogasi. Kecerdasan yang disertai dengan kejujuran akan menghasilkan informasi yang jernih dan lengkap. Kontras, kecerdasan juga dapat menjadi senjata utama bagi para kriminal dalam memanipulasi realitas, jika mereka memutuskan untuk berbohong di hadapan pemeriksa.

Yang sering kali luput dari perhatian adalah hubungan antara kecerdasan dan kerentanan individu dalam menerima sugesti (suggestibility). Tingginya tingkat intelijensi seorang individu, menurut riset, tidak menjamin bahwa ia akan lebih kebal terhadap sugesti. Intelijensi dan komponen-komponen di dalamnya rentan terhadap distorsi. Itu sebabnya, kendati didesak oleh tekanan internasional, tidak semestinya tergesa-gesa mengorek sebuah pengakuan. Karena tidak sabar dan agresif, penginterogasi tanpa sadar cenderung akan memperkuat bobot sugestinya terhadap tersangka, sehingga memperbesar probabilitas munculnya kesesatan informasi (Fisher, 1995).



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s